Diam, dingin dan hampa,
membungkus raga tanpa busana,
menusuk hingga ubun-ubun,
mengalir sepanjang aliran darah,
hening...
Tak ada bisikan, tak ada nyanyian,
tawa pun sirna dan gelap menyelimuti.
Tak ada penuntun maka lumpuhlah,
jatuh dan terbenam pada kubangan gemerlapan.
Sesaat, suara itu muncul dengan nyaringnya,
memecahkan selaput gendang telinga,
lalu pergi tanpa kabar,
dan hening...
Renyahnya tawa hanya diingatan,
tak tahu kapan kan jadi kenyataan.
Dan kini di dalam ketiadaan,
meremukkan hati, melumpuhkan tulang.
Bibir pun hanya mampu berucap,
"Di manakah kau, wahai penjaga hati yang kesepian?''
Padang, 15 Des 2011
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Desember 2011
Tentang Dia
Ibu, kau hanya mengajariku tentang menyayangi,
bukan mencinta.
Dan aku tak tahu apa itu mencintai,
apa rasanya mencintai atau dicintai.
Inikah cinta itu?
Saat jantung berdebar kencang mendengar namanya,
saat ku malu 'tuk menatap matanya,
saat ku selalu ingin melihat wajahnya.
Ibu, andai kau di sini,
'kan selaluku ceritakan kisahnya padamu.
Tentang bagaimana dia tersenyum,
bagaimana dia memanggil namaku,
bagaimana dia membuatku tertawa,
dan semua tentangnya.
Ibu, aku harap aku tidak salah menafsirkan cinta,
karena baru kali ini aku mencintai
dan menanti kapan dicintai
Senin, 27 Juni 2011
7 Alasan Mencela Diri
Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
pertama kali ketika aku melihatnya lemah, padahal seharusnya ia bisa kuat.
Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket dihadapan orang yang lumpuh
Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah, ia memilih yang mudah
Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan coba menghibur diri dengan mengatakan bahwa semua orang juga melakukan kesalahan
Kelima kali, ia menghindar kerana takut, lalu mengatakannya sebagai sabar
Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk padahal ia tahu,
bahwa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai
Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat
- Khalil Gibran -
Senin, 07 Maret 2011
BANGSA KASIHAN
Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya
Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.
Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.
Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.
Khalil Gibran
Kau dan kisahmu
Aku muak,
mendengar kata yang keluar dari mulutmu
tak henti mengumbar kisahmu
Kagummu, kasihmu, gembiramu
Semua kisah yang menyangkutmu
Taukah kau,
betapa rianya dirimu?
Betapa bosannya aku?
Betapa panasnya telingaku?
Semuanya tentang kau
Tentang semua kebanggaanmu
Tiadakah,
kau mempedulikan sekitarmu,
memperhatikan lawanmu,
merasakan hampanya pembicaraan,
merasakan bahwa aku telah muak?
Tidak!
Kalau kau memang tak berhati
mendengar kata yang keluar dari mulutmu
tak henti mengumbar kisahmu
Kagummu, kasihmu, gembiramu
Semua kisah yang menyangkutmu
Taukah kau,
betapa rianya dirimu?
Betapa bosannya aku?
Betapa panasnya telingaku?
Semuanya tentang kau
Tentang semua kebanggaanmu
Tiadakah,
kau mempedulikan sekitarmu,
memperhatikan lawanmu,
merasakan hampanya pembicaraan,
merasakan bahwa aku telah muak?
Tidak!
Kalau kau memang tak berhati
07-03-2011
09:21
Langganan:
Postingan (Atom)