Jumat, 17 Juni 2011

Galau

            Makin hari arah dan tujuan hidupku makin tak jelas. Terlalu banyak hal yang membebani pikiranku beberapa minggu ini. Entah setan apa yang sedang mengusikku. Atau cobaan apa yang melatar belakangi ini semua terjadi. Aku pasrah dan mencoba untuk tegar. Namun sayang, tegarku hanya sebatas tegar batu karang yang selalu dihempas ombak. Makin lama makin terkikis.
          Gelak tawa yang aku sumbangkan hanya sebatas kebahagiaan sesaat. Hanya tangis yang bersenandung di sanubariku. Senyumku tak setulus dahulu mesti aku ragu sejak kapan aku tersenyum dengan tulus? Dadaku penuh dengan dendam yang aku sendiri tidak begitu bisa menangkap maksud yang tersirat darinya. Dan sejak kapan aku menyimpan dendam? Untuk siapa? Ah, sungguh aku benar-benar tak mengerti dengan keadaanku saat ini.
            Sebagai manusia, aku berhak untuk berperan sebisaku. Aku bisa menjadi baik maupun jahat. Bahkan bermuka dua. Apa salahnya? Toh di abad 20 ini muka dua sudah menjadi tren. Saat aku marah dengan seseorang, beberapa saat kemudian pasti akan bertegur sapa kembali. Atau setidakya masih menaruh simpati kepadanya. Memang tidak konsisten dan aku memang tidak suka itu. Tapi cukup wajar karena posisiku hanya manusia biasa. Aku bukan nabi dengan kesabaran yang luar biasa. Aku hanya orang biasa dengan kesabaran terbatas.
            Rutinitas kehidupan aku jalani dengan kepalsuan. Palsu luar dalam. Di dunia ini yang palsu yang merajai. Yang mati, ya siap-siap saja menggali lubang dan masuk ke dalamnya. Toh semuanya akan sia-sia. Jangan salah, palsu tidak selalu jelek, setidaknya bisa menutupi aib di muka umum. Ya, setidaknya aku masih dilindungi oleh kepalsuan ini. PALSU. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar