Sabtu, 25 Desember 2010

Masih pentingkah WIRID?

SABTU, 18 DESEMBER 2010

Langit malam baru terlihat. Bintang satu persatu memperlihatkan keindahan cahayanya. Bulan juga tak mau kalah. Namun kelihatannya ia masih sungkan untuk keluar dari tempat persembunyiannya, belakang awan.


Suara panggilan dari mesjid sudah berulang kali terdengar.
"Kepada siswa-siswi SMP dan SMA untuk dapat segera datang ke mesjid. Karena hari ini kita akan melaksanakan wirid remaja. Dan ustadnya sudah datang. Berhubung waktunya singkat yakni sampai isya, diharapkan untuk segera mungkin tiba di mesjid."

Aku yang sedari tadi sedang menikmati semangkuk pangsit langsung buru-buru menghabiskan suapan terakhir. Tujuan pertama: KAMAR MANDI. Aku belum menunaikan shalat maghrib. Padahal, sebelum azan tadi mama sudah memperingatkan bahwa hari ini ada wirid. Namun aku bilang, "Bukan, katanya tanggal 2 mulainya."
Dasar anak kualat!

Sehabis shalat magrib, segera mungkin aku mengambil kuitansi pembayaran karena belum lunas. Lalu dengan langkah gontai - tampang orang tak bersalah - aku berjalan menuju mesjid. Ketika memasuki mesjid, aku langsung menghampiri kakak "O." Seperti pertemuan2 sebelumnya, kalimat yang akan dilontarkan adalah, "Sebenarnya malas ma pergi wirid"

Bagaimana enggak?

Akhirnya acara dimulai.
Ketika ustad menyajikan materi, peserta kelihatan asyik dengan dunia mereka sendiri. Mereka maota. MEMALUKAN !


"Baru kali ini saya ketemu peserta kayak ini." Oh dear,, selalu begini dan takkan berujung.

Hening sesaat. Beliau pun melanjutkan ceramahnya. Sesaat kemudian suara menggelegar. Astaghfirullahal'azdim.

Lelaki tua yang sejak tadi duduk memperhatikan tampak beristighfar sambil mengurut dada. Aku pikir yang ada dipikirannya saat ini adalah seharusnya ia berada di rumah sambil minum secangkir teh hangat daripada menambah dosa mengumpati keadaan. Laki-laki tua yang malang.

Isya pun menjelang.
Gema azan berkumandang. Para peserta disuruh untuk mengambil wuduk.

Pardon me?
Disuruh?
Bukankah sudah selayaknya mereka berdiri sendiri menuju tempat wuduk tanpa dikomando?
Malang nian nasib mu nak hidup di zaman sekarang ini.

Ketika mengambil absen, keributan kembali terjadi.

"Ampun, balai bana ndak anak2 kini ko? Alun SMA lai alah kayak itu parangainyo," kata kakak "O".

Maklumlah, kebanyakan pesertanya adalah murid SMP.

Di dalam hati, aku hanya bisa beristigfar dan memohon pada Tuhan untuk memberi petunjuk pada kami semua,
Amiiiin.

2 komentar:


nesyamahraf mengatakan...
hihi setuju aku dewi :)
dewi airlangga mengatakan...
haha.. sumpah, aku bosan wirid :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar