Sebenarnya :
Ilmu yang Mahal atau Sekolah yang Kemahalan [?]
Ulang tahun yang ke-65 tidak begitu banyak memberi perubahan terhadap negeri ini. Yang miskin BERTAMBAH miskin, yang kaya MAKIN kaya. Wah, perubahan yang sungguh menakjubkan. Begitu signifikan, bukan?
Katanya, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.”
Katanya, “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran.”
Katanya, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
Semoga saja itu segera terwujud. Amiin.
Oke, kembali kepada topik.
Pernah menonton film “Alangkah Lucunya Negri Ini” ?
Saya sangat senang dengan tema yang diambilnya. Tidak lepas dari fakta yang ada. Begitu banyak sindiran yang tersurat maupun yang tersirat.
Sudah membaca buku “Sekolah Dibubarkan Saja” ?
Topik yang diangkat juga sangat dekat dengan keadaan sekitar kita. Pahamilah, anda akan mengerti apa yang diinginkan penulis.
Pernah mendengar kasus maling buah lalu dipenjara?
Bandingkan dengan kasus mafia pajak atau mafia bangsat lainnya yang banyak tersebar akhir-akhir ini.
Adilkah? Adakah yang namanya perlindungan, jaminan dan kepastian hukum?
Hanya yang bersaku tebal yang merasakannya.
Oh tidak, topik kita sudah mulai amburadul.
Diangkat berdasarkan buku ‘Sekolah Dibubarkan Saja’ karya kak Chu-diel (maaf, lupa kepanjangannya) serta fakta yang ada, saya mencoba membuat blog ini.
Sekolah, yang menurut Kak Chu-diel adalah ‘pabrik terbesar di Nusantara.’
Sekolah, dimana setiap tahunnya menghasilkan bibit-bibit baru generasi bangsa.
Sekolah, tempat menuntut ilmu.
Sekolah, dan sekolah.
Kenapa sistem pendidikan kita begitu banyak tingkatannya?
Sesudah bermain dan belajar di TK, dilanjutkan masuk ke SD. Setamat SD menempuh jenjang SMP. Selulus SMP, lanjut ke SMA. Ingin mendapatkan kesejahteraan hidup, laluilah masa kuliah. Karena persaingan yang sudah sangat ketat, lanjutkan sampai meraih sarjana yang tinggi. Dan akhirnya, memperoleh gelar : Profesor. Tidak puas? Atau tuntutan hidup semakin berat? Bunuh diri saja! Toh, sarjana yang diperoleh tidak akan ditanya oleh malaikat penjaga kubur.
Apakah dengan sekolah kita akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah?
Atau hanya akan menambah beban : beban pikiran dan beban hidup?
Ilmu itu MAHAL
Oke, bisa diterima.
Tapi kalau,
Sekolah itu KEMAHALAN
Itu tidak bisa! Negara sudah memberikan yang namanya DANA BOS. Tapi kenapa masih ada sekolah yang kemahalan? Secara tidak langsug itu sudah melanggar pasal 31, “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran.” TIDAK SEMUA warga Negara yang berduit. Makan sekali sehari saja udah syukur bagi mereka. Dan sekarang, beban mereka bertambah dengan adanya sekolah yang kemahalan.
Begitu banyak anak-anak jalanan yang putus sekolah hanya karena tak punya biaya. Mereka lebih memilih hal yang benar-benar nyata : bekerja dan menghasilkan uang. Sedang sekolah, belum tentu mereka bisa menghasilkan uang untuk menyambung hidup.
Hmm,
Tolong diperhatikan! Tulisan-tulisan ini dibikin bukan untuk menjelek-jelekan. Tetapi lebih kepada mengutarakan maksud hati.
Terimakasih sudah meluangkan waktunya hanya untuk membaca blog jelek ini. Maaf bila ada maksud yang salah. Sampai jumpa di blog berikutnya J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar