Entah apa yang masih bisa dibanggakan lagi dari negriku. Mungkin beberapa tahun silam, kesuburan dan kepermaian negriku masih harum didengar. Mungkin beberapa tahun silam kekayaan mineral, minyak bumi, batu bara dan sebagainya masih melimpah ruah di negri yang masih sering kita sebut dengan “negri yang kita cintai ini”. Dan sekarang? Masih samakah yang kita dengar? Masih adakah kenyataan dari semua itu? Atau hanya pendengaran dan penglihatanku sajakah yang salah?
Ya, boleh bisa dikatakan bahwa sedikit-banyaknya kata-kata di atas masih ada di sekitar kita. Namun, apakah itu semakin berkembang atau malah merosot? Kita dapat menilai sendiri bukan? Kita yang menjalani, kita yang menikmati, kita yang menilai dan tentu kita punya andil untuk bertanggung jawab. Apakah kita sudah melaksanakan kewajiban tersebut?
Boleh dikatakan bahwa negri kita ini masih eksis, misalnya masih ada anak bangsa yang mengharumkan negri kita dengan gelar juara dari olimpiade internasional. Tim sepak bola kita, yang selama ini sering kalah tanding, sudah bangkit dan mencoba memutar keadaan. Meningkatnya peringkat tim negri kita dalam ajang ASIAN GAMES 16 di Guangzhou, China. Dan makin maraknya mafia-mafia bajingan di negri tercinta ini.
Mafia yang bermata hijau ketika melihat uang itu juga ikut mengharumkan negri kita. Ya, mereka membuat negri kita berada di peringkat 10 besar di ajang bergengsi “NEGARA TERKORUP DI DUNIA”. Bukankah itu juga menunjukkan keeksistensian negri kita?
Hm, okelah, saya yang baru akan menginjak usia 16 tidak selayaknya berkata demikian. Tapi, beberapa tahun akan datang, calon-calon mafia sekarang ini akan terus bertebaran di Nusantara. Mereka mungkin akan membuat peringkat kita makin tinggi. Peringkat satu tidak begitu cukup untuk membalas jasa mereka. Hah, cukup memalukan. Benih-benih mafia sudah banyak tertanam. Kelak saat akan disemai, para petani akan mendapatkan panen yang memuaskan. Hama begitu tak kuasa untuk mengganggu mereka.
Pola pikiran dan sikap para pemimpin kita tercinta sudah diturunkan ke generasi bangsa. Tepatnya dari para mafia. Seperti pada para pelajar sekarang. Sedikit banyaknya sikap mereka yang mengarah pada sikap mafia. Banyak diantara mereka yang menganggap sekolah sebagai ajang nongkrong, kumpul kebo, tawuran dan sebagainya. Sekolah bukan kebutuhan bagi mereka. Jangan salahkan mereka. Mereka hanya akibat dari kesenjangan sosial yang ada.
Para pelajar juga banyak mencontoh sikap dari pemimpin mafia kita. Seperti berbuat curang terutama dalam ujian. Saya, selaku pelajar, sangat kecewa akan hal ini. Semakin berkembangnya teknologi, semakin menambah dosa pribadi tersebut. Mereka memanfaatkan HP sebagai sarana mencontek. Mereka serta-merta memfoto lembaran-lembaran buku yang terkait dengan materi ujian. Dengan adanya touchscreen, dengan mudahnya mereka menukar-nukar gambar hasil jepretan tadi. Mereka menggunakan sarana internet untuk browsing ke dunia maya dengan tujuan mencari jawaban soal.
Sungguh memalukan bukan?
"Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya."
Ungkapan yang tepat dalam menggambarkan situasi seperti ini. Para pemimpinnya saja tidak bersih, bagaimana dengan generasi mudanya? Ya, sekali lagi, jangan salahkan mereka. Sistem juga ada kaitannya dengan keadaan ini. Pelajar hanya dituntut untuk mencari nilai setinggi mungkin dengan cara apapun. Sedang mereka tidak mendapatkan manfaat untuk beberapa tahun ke depan dari nilai mereka yang tinggi itu. Ya, karena mereka tidak ada memahami apa yang mereka pelajari. Seharusnya kita belajar untuk memahami bukan untuk mencari nilai tinggi. Sayangnya, prinsip itu tidak begitu berlaku karena untuk melanjutkan pendidikan pun dibutuhkan nilai tinggi agar mendapatkan sekolah favorit. Membingungkan? Tentu.
Tidak dapat dipungkiri, memang saya sedikit terdengar munafik. Saya memang pernah melakukan kecurangan. Apa daya? Apapun ditentukan oleh nilai. Mereka yang bernilai tinggi akibat contekan akan meninggikan dagu. Sedang kami yang telah berusaha keras hanya bisa pasrah dengan nilai pas-pasan. Bahkan kadang pula remedi. Lalu, siapa yang disalahkan?
Mereka tidak dapat dinasihati.
Mereka selalu benar.
Kapan semuanya akan adil dan bersih?
Demi negri ini jua kan akhirnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar